Renungan Kitab Suci hari rabu, 20 Agustus 2014 : Iri hatikah engkau, karena aku murah hati ?

1037 views

th

Yeh 34:1-11 | Mzm 23:1-6 | Mat 20:1-16a

Iri hatikah engkau, karena aku murah hati ?

Sekali peristiwa Yesus mengemukakan perumpamaan berikut kepada murid – muridNya, “Hal kerajaan surga itu seperti seorang tuan rumah yang pagi – pagi benar keluar mencari pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah sepakat dengan para pekerja mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. Kira – kira pukul sembilan pagi ia keluar pula, dan dilihatnya ada orang – orang lain menganggur di pasar. Katanya kepada mereka, ‘pergi jugalah kalian ke kebun anggurku, dan aku akan memberimu apa yang pantas.’ Dan mereka pun pergi. Kira – kira pukul dua belas dan pukul tiga sore ia keluar pula, dan mendapati orang – orang lain pula; lalu katanya kepada mereka, ‘ Mengapa kalian menganggur saja disini sepanjang hari?’ jawab mereka, ‘Tidak ada orang yang mengupah kami.’ Kata orang itu, ‘pergilah kalian juga ke kebun anggurku.’

Ketika hari sudah malam berkatalah tuan itu kepada mandornya, ‘ panggilah sekalian pekerja dan bayarlah upahnya, mulai dari yang masuk terakhir sampai kepada yang masuk terdahulu. Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira – kira pukul lima sore, dan mereka masing – masing menerima satu dinar. Kemudian datang mereka yang masuk terdahulu. Mereka mengira akan mendapat upah yang lebih besar. Tetapi menerimanya, mereka bersungut – sungut kepada tuan itu, katanya,’Mereka masuk paling akhir ini hanya bekerja satu jam, dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari.(…)

—ooOoo—

Jika dilihat secara sepintas, tuan kebun dalam perumpamaan itu bertindak tidak adil. Ia menyamakan orang yang datang paling akhir dengan pekerja yang datang sejak pagi. Ada yang salah ? Pertama, pekerja awal sepakat dengan upah kerja sedinar sehari. Mereka bekerja dan dibayar. Sementara tak ada kesepakatan seperti itu pada pekerja lain. Tuan kebun yang memutuskan apa yang baik untuk mereka. Ukuran tuan kebun ialah kelayakan hidup. Kebutuhan orang yang bekerja sejam dan yang bekerja sehari penuh sama. Maka ia memberikan kepada mereka menurut kebutuhan.

Pekerja yang datang kemudian adalah gambaran orang berdosa yang sadar diri bahwa mereka telah berdosa. Mereka tidak berhak untuk mengajukan tawaran, tetapi sepenuhnya bergantung pada belas kasih Tuhan. Sementara pekerja terdahulu adalah potret kaum Farisi atau orang – orang Yahudi lain yang merasa diri bersih. Ketika belas kasih Tuhan atas diri mereka sama dengan orang yang berdosa yang bertobat, mereka iri hati. Tuhan dapat bermurah hati kepada siapa pun sesuai dengan rencana dan kehendakNya . jika keselamatan adalah hak Tuhan, tak ada alasan bagi kita untuk merasa irihati terhadap sesama. Bukankah kita juga ingin agar sebanyak mungkin orang berdosa masuk kerajaan surga ? (ThK)

  1. Apakah virus kecemburuan atau iri hati masih bercokol dalam diriku dan mengerogoti hidupku ?
  2. Berjuanglah agar selalu bebas darinya.

Disalin dari buku Berjalan Bersama SANG SABDA, Refleksi Harian Kitab Suci 2014 –Provinsi SVD Jawa

Renungan Kitab Suci hari ini

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan