Renungan Kitab Suci hari Kamis, 14 Agustus 2014 : Jangan sampai ada dendam membara!

1119 views

download

 

Peringatan Wajib St. Maximillianus Maria Kolbe

Yeh 12:1-12; Mzm 78:56-57,58-59,61-62; Mat. 18:21 – 19:1

Sekali peristiwa datanglah Petrus kepada Yesus dan berkata, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan. Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.

Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya.

Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya. Maka BapaKu yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.” Setelah Yesus selesai dengan pengajaranNya itu, berangkatlah Ia dari Galilea dan tiba di daerah Yudea yang di seberang sungai Yordan.

— oOo —

Manusia bisa bersikap kejam, tanpa mengenal ampun ketika membenci sesama. Hingga lahirlah ungkapan, “Benci sampai mati, tiada maaf bagimu!” Dendam itu seperti api membara yang dapat memicu konflik sosial. Mulai dari tawuran anak sekolah, mahasiswa, antarwarga kampung dan sebagainya. Dendam membara seperti ini hanya bisa padam jika disiram air belas kasih, sebab bukankah salah satu hakikat kasih ialah mengampuni? (1 Kor 13:5).

Seorang istri memberi kesaksian bahwa ketika tahu suaminya selingkuh, awalnya ia sangat marah. Namun, karena komitmennya untuk menjaga pernikahan sangat kuat, ia pun belajar menerimanya. Cintanya kepada suami dan anak-anak memampukan dia untuk memaafkan walaupun memerlukan waktu cukup lama. Alhasil, keutuhan keluarganya terjaga sampai sekarang.

Petrus bertanya kepada Yesus, “Tuhan sampai berapa kali aku harus mengampuni kesalahan saudaraku, sampai tujuh kalikah?” Jawab Yesus, “Sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (Mat 18:21-22). Apa makna jawaban Yesus ini? Artinya, jumlah yang tak terhitung, tanpa batas. Setiap kali membuat kesalahan ada pengampunan, dan seterusnya juga begitu. Mungkinkah ini terjadi dalamhidup sehari-hari? Mungkinkah terjadi dalam kasus yang berat dimana hati sangat terluka apalagi dialami berkali-kali? Memang sebagai manusia biasa, bukan Stefanus atau Santo Yohanes Paulus II yang memaafkan Ali agca yang menembak beliau di lapangan St. Petrus (13/5/81), mengampuni, memaafkan itu rasanya sulit. Namun, rahmat Tuhan memampukan untuk mengampuni.

St. Maximillianus Maria Kolbe (1894-1941) sebagai pelindung keluarga mendukung kemungkinan tersebut. Dia berkata, “Adalah tidak benar bahwa para santo dan santa tidak menyerupai kita. Mereka juga mengalami godaan, mereka jatuh dan bangun kembali, mereka mengalami duka cita yang memperlemah dan membekukan mereka dengan perasaan yang mengecilkan hati” (Kata-kata Santo dan Santa, hlm. 232).

Kita menyadari, bahwa kita ini manusia rapuh, tidak lepas dari kesalahan. Maka, sambil memusatkan hati pada Kerahiman Ilahi – disertai dengan khusuk berdoa Bapa Kami – diharapkan kita sampai pada taraf mengampuni, memaafkan kesalahan sesama. Jangan sampai ada dendam membara! [Dewanto]

Sumber: Renungan Harian Bercitarasa Katolik cafe rohani bulan Agustus 2014

Renungan Kitab Suci hari ini

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan