Renungan Kitab Suci hari Selasa, 12 Agustus 2014 : Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorangpun dari anak-anak ini hilang

1026 views

DSC_1103

Yeh 2:8 – 3:4; Mzm 119:14,24,72,103,111,131; Mat 18:1-5,10,12-14

Sekali peristiwa datanglah murid-murid dan bertanya kepada Yesus, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?” Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka lalu berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam namaKu, ia menyambut Aku.” Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah BapaKu yang di sorga.

Lalu Yesus bersabda lagi, “Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? Dan Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu dari pada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorangpun dari anak-anak ini hilang.”

— oOo —

Anak adalah buah hati keluarga. Lebih dari itu, anak adalah buah Hati Allah. Dalam Injil hari ini sungguh tegas dikatakan oleh Yesus tentang perumpaan satu domba yang hilang dari seratus ekor yang ada, bahwa arti domba yang hilang itu ditujukan pada anak-anak kekasih Allah yang hilang. Ajaran Yesus berbunyi, “Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan lalu pergi mencari yang sesat itu? Dan Aku berkata kepadamu: Sungguh jika ia berhasil menemukannya, lebih besarlah kegembiraannya atas yang seekor itu daripada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikian pula Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang” (Mat 18:12-14).

Oleh karena itu, betapa besar tanggung-jawab orangtua Katolik dalam mendidik iman anak-anak mereka. Anak-anak harus diperdalam imannya sedini mungkin. Namun, ada juga orangtua yang berpendapat, biarlah anak-anak menentukan sendiri imannya ketika mereka sudah dewasa, yang penting anak baik dan tidak melakukan kenakalan, tidak mengganggu lingkungan atau tidak terlibat dalam kejahatan. Atau, dalam derajat yang lebih ringan, orangtua melemparkan tanggung jawab pendampingan iman anak-anak mereka pada sekolah atau lembaga pendamping iman lain seperti sekolah minggu, remaka, dan sebagainya. Dengan keadaan itu toh anak “tidak hilang” (tidak jahat), baik di hadapan Allah dan manusia.

Pandangan orangtua semacam itu seolah benar dan dapat diterima. Namun, sebenarnya adalah sikap tidak bertanggung jawab atas tugas yang orangtua terima ketika baptis atau ketika saling menerimakan Sakramen Perkawinan. Mereka berjanji untuk mendidik anak-anak mereka secara Katolik. janji ini bukan soal relasi dan janji manusiawi belaka dalam membangun rumah tangga yang harmonis, tetapi adalah tugas iman setiap keluarga Katolik yang mereka terima dari Allah.

Masih sempatkah Anda, para orangtua, mengajak anak untuk berdoa bersama, mengajak anak untuk pergi ke gereja bersama, atau melakukan ziarah? Pendek kata, orangtua perlu memelihara dan menjaga agar iman anak-anak tidak hilang. [Michael]

Sumber: Renungan Harian Bercitarasa Katolik cafe rohani bulan Agustus 2014

Renungan Kitab Suci hari ini

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan