Renungan hari Senin, 11 Agustus 2014 : Pernahkah Anda menjadi batu sandung bagi orang lain?

1297 views

images

 

 

Peringatan Wajib St. Klara, Yeh 1:2-5,24 – 2:1a; Mzm 148:1-2,11-12ab,12c-14a,14bcd; Mat. 17:22-27

Sekali peristiwa Yesus bersama murid-muridNya bersama-sama ada di Galilea, Ia berkata kepada mereka: “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.” Maka hati murid-muridNya itupun sedih sekali. Ketika Yesus dan murid-muridNya tiba di Kapernaum datanglah pemungut bea Bait Allah kepada Petrus dan berkata: “Apakah gurumu tidak membayar bea dua dirham itu?” Jawabnya: “Memang membayar.” Dan ketika Petrus masuk rumah, Yesus mendahuluinya dengan pertanyaan: “Apakah pendapatmu, Simon? Dari siapakah raja-raja dunia ini memungut bea dan pajak? Dari rakyatnya atau dari orang asing?” Jawab Petrus: “Dari orang asing!” Maka kata Yesus kepadanya: “Jadi bebaslah rakyatnya. Tetapi supaya jangan kita menjadi batu sandungan bagi mereka, pergilah memancing ke danau. Dan ikan pertama yang kaupancing, tangkaplah dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambillah itu dan bayarkanlah kepada mereka, bagiKu dan bagimu juga.”

— oOo —

Pernahkah Anda menjadi batu sandung bagi orang lain? Atau, pernahkah orang lain menjadi batu sandungan bagi Anda? Sadar  atau tidak, sengaja atau tidak, kita pernah menjadi batu sandungan bagi orang lain di sekitar kita.

Injil hari ini memberi teladan bagi kita agar jangan menjadi batu sandungan bagi orang lain. Menarik bahwa cerita dalam perikop ini diawali dengan pemberitahuan tentang penyerahan Anak Manusia ke dalam tangan manusia. Hal yang menarik adalah Yesus sebagai Anak Manusia atau Anak Allah. Bagaimana mungkin seorang anak membayar bea di rumah bapanya sendiri? Yesus tidak berkewajiban membayar bea Bait Allah, karena Ia adalah Anak Allah. Namun, Yesus mengerti bahwa pemungut bea tidak mengenal siapa Dia sebenarnya. Maka, agar tidak menjadi batu sandungan, Yesus membayar bea Bait Allah. Ini adalah teladan Yesus, tentang kerendahan hati dan kebijaksanaan dalam hidup bersama, yaitu menghormati hak dan melaksanakan kewajiban, yaitu menghormati hak pemungut bea dan pemerintah dan melaksanakan kewajibanNya sebagai manusia biasa agar tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain.

Sebaliknya, berkaitan dengan hak dan kewajiban ini, kita seringkali ‘menuntut lebih dari yang semestinya dan memberi kurang dari yang seharusnya’. Misalnya, masjikan menuntut pembantunya bekerja lebih keras dengan upah minimal; guru menuntut hidup layak, tetapi tak mengajar dengan baik; karyawan menuntut gaji dinaikkan, tetapi tidak disiplin dalam bekerja; orangtua menuntut balas budi dari anak, tetapi tidak pernah memberi kehangatan dan cinta; dan seterusnya.

Bagi kita sebagai umat Kristiani sudah waktunya untuk mengubah cara berpikir di atas, yaitu menjadi ‘memberi lebih dari yang seharusnya dan menuntut kurang dari yang semestinya’, minimal secara proporsional. mengapa harus mengubah? Karena kita adalah orang-orang yang telah dimeteraikan menjadi pengikut Sang Guru dalam pembaptisan dan terutama karena Ia telah memberi teladan dan menyertai kita dengan RohNya. Bahkan, kita sudah diberi lebih dari yang kita minta dan doakan.

Sama seperti Yesus, sudah seharusnya kita memberi lebih dari semestinya kepada Allah dan sesama. Denagn cara demikian, kita tidak menjadi batu sandungan. [Vroom]

Sumber: Renungan Harian Bercitarasa Katolik cafe rohani bulan Agustus 2014

Renungan Kitab Suci hari ini

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan