Renungan KItab Suci hari Minggu 10 Agustus 2014: Kepasrahan Bunda Maria

1905 views

kiman-bunda-maria-hidup-katolik

Hari Raya Maria Diangkat ke Surga: Why 11:19a;12:1,3-6a,10ab; Mzm 45; 1Kor 15:20-26; Luk 1:39-56
 
Ia diangkat dan dipermuliakan di surga karena kepasrahan dan pembaktian hidup seutuhnya pada kehendak dan rencana penyelamatan Allah dalam Yesus, lewat dirinya. Ia menyerahkan seluruh hidupnya dalam kepasrahan pada Allah.
Kesalehan dan kepasrahan Bunda Maria di hadapan Tuhan dikenal banyak orang. Pada peristiwa Kabar Gembira, Maria bernazar pada Malaikat: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Mungkin waktu itu hatinya berbunga-bunga dan kagum akan keajaiban peristiwa yang akan terjadi, seturut kata- kata Malaikat Gabriel. Dengan ungkapan itu, Maria menyatakan ketaqwaan terdalamnya pada Tuhan.
Hati Maria pun diselimuti keheranan. Tiap kali rasa heran singgah, ia selalu berucap: “Yang seperti ini, belum pernah kubayangkan”. Ada tujuh keheranan Maria.
Pertama, tatkala ia telah mengandung tua dan harus pergi ke Bethlehem untuk cacah jiwa bersama Yosef. Lelah dalam perjalanan jauh dengan keledai, mereka bahkan tak menemukan penginapan, kecuali kandang ternak dan palungan. Ia berkata dalam hati: “Mengapa harus begini?” Namun setelah Tiga Raja bersujud sembah pada Anaknya, spontan ia berucap: “Yang seperti ini, belum pernah kubayangkan”.
Kedua, saat Yosef mendapat bisikan Tuhan untuk mengungsi ke Mesir, menyelamatkan Anaknya dari kebengisan Herodes. Setelah perjalanan jauh bersama para pedagang dan khalifah, akhirnya mereka menumpang dalam satu rumah, dekat sungai Nil. Suatu sore, Maria spontan berkata di beranda rumahnya: “Yang seperti ini belum pernah kubayangkan”.
Ketiga, sewaktu perkawinan di Kana. Tuan rumah sangat terperanjat, sebab terancam rasa malu karena kehabisan anggur. Maria menyuruh Yesus mengubah air menjadi anggur. Tiba-tiba hal itu terjadi dan membuatnya tercengang. Sambil menggelengkan kepala, ia berkata: “Yang seperti ini, tak pernah kubayangkan”.
Keempat, ketika Yesus dihukum mati dan dipaksa memanggul salib ke Gunung Golgota: Yesus dihina bermahkota duri; Ia terjatuh dan dicambuk. Ia didera dan dipermalukan di depan khalayak. Hati Sang Bunda teriris kepedihan tak terperikan. Timbul dalam hatinya: “Yang seperti ini, tak pernah kubayangkan”.
Kelima, pada peristiwa Paskah. Maria telah menghantar jenazah Putranya ke makam milik Yosef dari Arimatea. Tiba-tiba terdengar berita Yesus bangkit. Akhirnya ia pun bertemu dengan Yesus hatinya: “Yang seperti ini, belum pernah kubayangkan”.
Keenam, ketika para murid kebingungan dan ketakutan di Yerusalem. Sesudah Yesus naik ke surga, Ia menyuruh para murid berkumpul di Yerusalem menantikan turunnya Roh Kudus. Maria pun berada bersama mereka. Mereka ketakutan terhadap orang Yahudi. Mereka menutup pintu rapat-rapat. Mereka berbisik- bisik, sebab takut orang Yahudi mendengarnya. Kecemasan melingkupi hati mereka. Namun kala Roh Kudus turun atas mereka, semuanya berubah. Mereka sangat bersemangat. Mereka menjadi berani, bahkan naik ke sotoh rumah. Mereka menegur orang Yahudi dan mengatakan bahwa orang Yahudi bersalah karena membunuh Yesus yang tak bersalah. Mereka memerintahkan orang Yahudi bertobat. Hari itu, lebih dari 3.000 orang dibaptis. Maria berkata: “Yang seperti ini, belum pernah kubayangkan”.
Ketujuh, peristiwa di surga, seturut Kitab Wahyu. Maria dipermuliakan dan dijadikan Ratu Surgawi. Para malaikat dan orang kudus takzim di hadapannya. “Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya” (Why 12:1). Terkesima, Maria lalu berkata: “Yang seperti ini, belum pernah kubayangkan”.
Demikianlah kisah hidup Bunda Maria. Ia diangkat dan dipermuliakan di surga karena kepasrahan dan pembaktian hidup seutuhnya pada kehendak dan rencana penyelamatan Allah dalam Yesus, lewat dirinya. Ia menyerahkan seluruh hidupnya dalam kepasrahan pada Allah.
Jika kita melihat dalam kacamata manusiawi, hidup Maria tak terlalu beruntung. Ia bahkan harus memeluk jenazah Putranya yang rusak dalam pangkuannya sendiri. Betapa hancur hatinya. Namun dalam kepasrahan pada Allah, semua berakhir pada kebahagiaan abadi: berbahagia di surga. Kita pun dapat dan patut meng’ ikuti teladan Bunda Maria ini..
 
Mgr Anicetus Bongsu Antonius 

Sinaga OFMCap
Uskup Agung Medan

– See more at: http://www.hidupkatolik.com/2014/08/09/renungan-minggu-10-agustus-2014-kepasrahan-bunda-maria#sthash.h2y47Y7y.dpuf

Bacaan Injil Bacaan Kitab Suci Renungan Kitab Suci hari ini

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan